Analisis
Novel Ketika Cinta Bertasbih 2(Habiburrahman El Shirazy)
1.
Unsur intrinsik
a.
Tema
:
Cinta
dan Sebuah Cita-cita
b.
Alur
:
Dalam
novel ini penulis menggunakan alur maju, karena dimulai dengan awal pertemuan
Anna Althafunnisa dengan Azzam, yang mana mereka telah melewati liku-liku
kehidupan hingga akhirnya mereka bersatu/menikah.
c.
Sudut
Pandang :
Orang
ketiga karena dalam penceritaan penulis menggunakan kata dia
d.
Penokohan
:
-
Khairul
Azzam : sederhana, pekerja keras, bertanggung jawab,
sholeh.
-
Anna Althafunnisa : lembut, sholehah, cerdas.
-
Furqan Andi Hasan : cerdas, bijak
-
Eliana : supel, hedonis,
cerdas.
-
Kiai
Lutfi : Seorang Ayah yang sangat bertanggung jawab atas
perbuatannya dan dapat menjadi panutan bagi masyarakat.
-
Ayatul
Husna : Gadis yang sangat
menyayangi keluarganya dan menjadi perantara yang mempertemukan Anna dengan
Azzam ketika di Indonesia.
e.
Gaya
Bahasa :
Dalam
Novel ini penulis lebih banyak menggunakan bahasa percakapan 3 bahasa yaitu
bahasa inggris,bahasa arab,dan bahasa indonesia sehingga pembaca mudah untuk
mamahami isi cerita.
f.
Amanat
:
Raihlah
cita-cita setinggi mungkin berjuanglah dengan kemampuan kita .Jadikan kehidupan
ini sebagai tantangan bagi kita semua.
g.
Latar
:
Tempat
yang dipakai penulis untuk mengisi ceritanya terletak di Cairo, Indonesia, Desa
Kartasura, Desa Wangen jawa.
2.
Unsur
Ekstrinsik :
a.
Biografi
Pengarang :
Habiburrahman
el-Shirazy (lahir di Semarang 30 September 1976) adalah sarjana Universitas
Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, penyair, dan suami dari
Muyasaratun Sa’idah. Memulai pendidikannya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil
belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak. Tahun 1992
ia merantau ke Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus
Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan Fakultas Ushuluddin,
Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai Tahun 1999. Tahun 2001
lulus Postgraduate Diploma S2 di The Institute for Islamic Studies, Kairo.
Selama di Kairo, ia telah
menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa
Islama (1999), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insanniyah al
Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (1998). Beberapa karya
terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (2001), Biografi Umar bin
Abdul Aziz (2002), Menyucikan Jiwa (2005), Rihlah ilallah (2004), dll.
Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (2001), Merah di
Jenin (2002), Ketika Cinta Menemukanmu (2004), dll.
Karya-karyanya banyak diminati tak
hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia,
Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan
menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Diantara karya-karyanya yang telah
beredar dipasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (2004), Di Atas Sajadah Cinta (2004),
Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika
Cinta Bertasbih 1 (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007) dan Dalam Mihrab
Cinta (2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari
Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem. (disadur dari Wikipedia.com)
b.
Latar
Belakang Penceritaan :
Habiburrahman
el-Shirazy, menulis cerita berdasarkan pengalaman hidupnya yang pernah
bersekolah di Universitas Al Azhar, Mesir. Selain sebagai media dakwahnya,
novel ini juga mencakup banyak cerita yang menggambarkan hidup seorang lelaki
Indonesia. Sebagai contoh, novelnya yang lain yaitu Ayat-ayat Cinta. Dan dari
segi ekonominya, pengarang tergolong menengah ke atas dilihat dari latar
petualangan pendidikannya, mulai dari pendidikan menengah di MTs Futuhiyyah 1
hingga S2 di The Institute for Islamic Studies Kairo.