Jumat, 03 Januari 2014

Analisis Novel Ketika Cinta Bertasbih 2




Analisis Novel Ketika Cinta Bertasbih 2(Habiburrahman El Shirazy)
1.      Unsur intrinsik
a.       Tema :
Cinta dan Sebuah Cita-cita
b.      Alur :
Dalam novel ini penulis menggunakan alur maju, karena dimulai dengan awal pertemuan Anna Althafunnisa dengan Azzam, yang mana mereka telah melewati liku-liku kehidupan hingga akhirnya mereka bersatu/menikah.
c.       Sudut Pandang :
Orang ketiga karena dalam penceritaan penulis menggunakan kata dia
d.      Penokohan :
-          Khairul Azzam            :  sederhana, pekerja keras, bertanggung jawab, sholeh.
-           Anna Althafunnisa     : lembut, sholehah, cerdas.
-           Furqan Andi Hasan    : cerdas, bijak
-          Eliana                          : supel, hedonis, cerdas.
-          Kiai Lutfi                    : Seorang Ayah yang sangat bertanggung jawab atas perbuatannya dan dapat menjadi panutan bagi masyarakat.
-          Ayatul Husna              : Gadis yang sangat menyayangi keluarganya dan menjadi perantara yang mempertemukan Anna dengan Azzam ketika di Indonesia.
e.       Gaya Bahasa :
Dalam Novel ini penulis lebih banyak menggunakan bahasa percakapan 3 bahasa yaitu bahasa inggris,bahasa arab,dan bahasa indonesia sehingga pembaca mudah untuk mamahami isi cerita.

f.       Amanat :
Raihlah cita-cita setinggi mungkin berjuanglah dengan kemampuan kita .Jadikan kehidupan ini sebagai tantangan bagi kita semua.
g.      Latar :
Tempat yang dipakai penulis untuk mengisi ceritanya terletak di Cairo, Indonesia, Desa Kartasura, Desa Wangen jawa.

2.      Unsur Ekstrinsik :
a.       Biografi Pengarang :
Habiburrahman el-Shirazy (lahir di Semarang 30 September 1976) adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, penyair, dan suami dari Muyasaratun Sa’idah. Memulai pendidikannya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak. Tahun 1992 ia merantau ke Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai Tahun 1999. Tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma S2 di The Institute for Islamic Studies, Kairo.
          Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (1998). Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (2002), Menyucikan Jiwa (2005), Rihlah ilallah (2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (2001), Merah di Jenin (2002), Ketika Cinta Menemukanmu (2004), dll.
         Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Diantara karya-karyanya yang telah beredar dipasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (2004), Di Atas Sajadah Cinta (2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007) dan Dalam Mihrab Cinta (2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem. (disadur dari Wikipedia.com)

b.      Latar Belakang Penceritaan :
Habiburrahman el-Shirazy, menulis cerita berdasarkan pengalaman hidupnya yang pernah bersekolah di Universitas Al Azhar, Mesir. Selain sebagai media dakwahnya, novel ini juga mencakup banyak cerita yang menggambarkan hidup seorang lelaki Indonesia. Sebagai contoh, novelnya yang lain yaitu Ayat-ayat Cinta. Dan dari segi ekonominya, pengarang tergolong menengah ke atas dilihat dari latar petualangan pendidikannya, mulai dari pendidikan menengah di MTs Futuhiyyah 1 hingga S2 di The Institute for Islamic Studies Kairo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar