Sampah di Kota Metropolitan
Kota
Surabaya adalah kota yang padat akan penduduknya. Kota Surabaya setiap harinya
disibukkan oleh kurang lebih 200 warga pendatang yang datang untuk mengajukan
SPMP (Surat Pindah Menjadi Penduduk). Perkembangan pembangunan di berbagai
aspek, seperti ekonomi dan industri di kota Surabaya tiap tahunnya mengalami
peningkatan. Dari tahun ketahun banyak pendatang yang bermigrasi, hal ini akan
mengakibatkan terjadinya penyerapan tenaga kerja secara besar-besaran dari desa
ke kota. Dengan bertambahnya tenaga kerja tersebut akan terjadi peningkatan
jumlah penduduk. Urbanisasi yang terus bertambah tersebut, menyebabkan
perbandingan jumlah penduduk dengan luas kota tidak seimbang.
Sehingga mengakibatkan kota Surabaya kelebihan
penduduk. Padahal idealnya jumlah penduduk di Kota Surabaya rata-rata 75 jiwa
per hektar, Setiap tahun, rata-rata kenaikan jumlah penduduk Kota Surabaya naik
sebesar 1,62 %. Pada tahun 2008, jumlah penduduk Surabaya mencapai 2.885.862
jiwa. Dengan luas kota sekitar 29.000 hektar, seharusnya jumlah penduduk ideal
Kota Surabaya hanya 2.175 .000 jiwa, yaitu 75 jiwa per hektar. Kota Surabaya
ini hanya semata-mata untuk mencari pekerjakan. Mereka berkeyakinan bahwa kota
Surabaya ini adalah kota yang dominan untuk mencari nafkah dan tempat tinggal,
dan dari sinilah semua orang biasa
mencukupi kebutuhan hidupnya. Kurangnya lahan yang ideal membuat mereka pun rela untuk bertempat tinggal
dilahan yang kumuh dan berdesak-desakan.
Pembangunan
yang tidak merata antara pedesaan dan perkotaan ini pun akan mempengaruhi pada
terkonsentrasinya jumlah penduduk disuatu perkotaan dapat berakibat
terkonsentrasinya sumber dan timbulan sampah di perkotaan. Semakin bertambahnya
penduduk Surabaya otomatis menimbulkan banyak juga sampah yang dihasilkan dari
aktifitas-aktifitas penduduk Surabaya. Jumlah sampah sebanding dengan tingkat
konsumsi yang kita gunakan sehari-hari. Pengolahan sampah di kota Surabaya saat
ini belum dikelola secara maksimal, pengelolaan yang ada saat ini hanya
terbatas pada pengolahan sampah secara konvensional yaitu hanya diangkut dari
tempat penghasil sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan kemudian hanya
dibuang begitu saja ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) pengolahan sampah yang
ditujukan untuk mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA belum dilakukan
secara optimal.
Penanganan
sampah yang masih dilakukan secara konvensional belum dapat mengendalikan
sampah yang ada. Sampah yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan
berbagai permasalahan kesehatan. Polusi bau dari sampah yang membusuk,
pencemaran air akibat pembuangan sampah ke sungai dan merembesnya air limba
dari TPA (tempat pembuangan akhir) ke permukiman dan sumber air penduduk, serta
pencemaran udara akibat pembakaran sampah merupakan permasalahan lain yang
timbul akibat pembakaran sampah. Pencemaran air sungai akibat pembuangan sampah
juga membawa dampak negatif pada kesehatan manusia, terutama dengan
meningkatnya penyakit diare serta biaya pengolahan air baku untuk air minum
yang terus meningkat. Bahkan seringkali terjadi, terutama pada musim kemarau,
kualitas air baku sudah tercemar berat, akibatnya sulit diolah menjadi air yang
layak diminum, sehingga bahan baku air minum harus didatangkan dari sumber yang
lain.
Tumpukan
sampah rumah tangga yang dibiarkan begitu saja akan mendatangkan tikus got dan
serangga (lalat, kecoa, lipas, kutu, dan DLL) yang membawa kuman atau penyakit.
Lalat hidup dari sisa makanan dan berkembang biak ditempat sampah. Lalat dapat
menjadi pembawa utama dari kuman bakteri yang menyebabkan diare karena mudah
hinggap di makanan. Nyamuk akan beranak-pinak di air yang tidak bergerak di
sekitar sampah yang tercecer dan dapat menyebabkan malaria bahkan demam
berdarah.
Kurangnya
sarana dan prasarana tempat untuk pembuangan sampah pun kurang memadai, yang
menyebabkan masyarakat membuang sampah disungai. Aliran Air sungai menjadi
terhambat karna banyaknya pembuangan sampah, misalnya sampah dari rumah tangga,
dari limbah pabrik atau industry DLL. Sampah yang dibuang dijalan dapat
menghambat saluran air yang akhirnya membuat air terkurung dan tidak bergerak,
menjadi tempat berkubang bagi nyamuk penyebab malaria. Sampah yang menyumbat
saluran air atau got dapat menyebabkan banjir. Ketika banjir, air dalam got
yang tadinya dibuang keluar oleh setiap rumah akan kembali masuk ke dalam rumah
sehingga semua kuman, kotoran dan bibit penyakit masuk lagi ke dalam rumah.
SOLUSI :
Penanganan
masalah bertambahnya sampah akibat pertambahan penduduk Surabaya yang semakin
pesat dapat ditinjau dari 2 segi, yaitu dari segi penekanan urbanisasi /
pertambahan penduduk Surabaya oleh pemerintah dan segi penanganan sampah itu
sendiri.
1. Penekanan Urbanisasi / Pertambahan Penduduk
Surabaya oleh Pemerintah Penekanan urbanisasi / pertambahan penduduk Surabaya
lebih penting dibandingkan dengan penanganan sampah yang ditimbulkan tersebut,
karena penyebab adanya sampah adalah penduduk itu sendiri. Sehingga yang perlu
lebih diperhatikan adalah masalah kependudukan yang ada di Surabaya. Penduduk
baru yang tidak memiliki kejelasan tujuan dan tempat tinggal lebih baik
dikembalikan ke daerah asalnya, karena penduduk tersebut selain menambah
kepadatan penduduk Surabaya juga akan menambah angka pengangguran penduduk
Surabaya.
2. Penanganan Sampah selain penanganan masalah
kependudukan, penanganan sampah yang ditimbulkan perlu dilakukan agar
menimbulkan kesan kota Surabaya menjadi kota yang sehat dan bersih. Alternatif
yang digunakan untuk mengurangi jumlah sampah buangan dibagi dalam tiga macam
proses, yaitu daur ulang, transformasi thermal dan transformasi biologis. Dari
transformasi thermal sendiri dibagi dalam tiga macam pengolahan, yaitu
pembakaran. Sedangkan untuk transformasi biologis terbagi dalam dua macam
pengolahan.
Dengan
kita sering membuang sampah sembarangan dapat mengakibatkan penduduk sekitar
terancam dengan sampah yang kita buang sembarangan. Kesadaran manusia itu
sendirilah yang berperan penting disini. Jadi, mulailah dari sekarang untuk
sadar dan mengubah gaya hidup serta pola konsumsi berlebihan untuk mencegah
angka kemiskinan akibat sampah yang kita produksi tiap harinya demi terciptanya
Kota Surabaya Green and Clean dan dapat meraih predikat Kota Adipura.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar