Kamis, 27 Desember 2012

SIFAT WARGANEGARA YANG TIDAK DEMOKRATIS


Sampah di Kota Metropolitan
Kota Surabaya adalah kota yang padat akan penduduknya. Kota Surabaya setiap harinya disibukkan oleh kurang lebih 200 warga pendatang yang datang untuk mengajukan SPMP (Surat Pindah Menjadi Penduduk). Perkembangan pembangunan di berbagai aspek, seperti ekonomi dan industri di kota Surabaya tiap tahunnya mengalami peningkatan. Dari tahun ketahun banyak pendatang yang bermigrasi, hal ini akan mengakibatkan terjadinya penyerapan tenaga kerja secara besar-besaran dari desa ke kota. Dengan bertambahnya tenaga kerja tersebut akan terjadi peningkatan jumlah penduduk. Urbanisasi yang terus bertambah tersebut, menyebabkan perbandingan jumlah penduduk dengan luas kota tidak seimbang.
 Sehingga mengakibatkan kota Surabaya kelebihan penduduk. Padahal idealnya jumlah penduduk di Kota Surabaya rata-rata 75 jiwa per hektar, Setiap tahun, rata-rata kenaikan jumlah penduduk Kota Surabaya naik sebesar 1,62 %. Pada tahun 2008, jumlah penduduk Surabaya mencapai 2.885.862 jiwa. Dengan luas kota sekitar 29.000 hektar, seharusnya jumlah penduduk ideal Kota Surabaya hanya 2.175 .000 jiwa, yaitu 75 jiwa per hektar. Kota Surabaya ini hanya semata-mata untuk mencari pekerjakan. Mereka berkeyakinan bahwa kota Surabaya ini adalah kota yang dominan untuk mencari nafkah dan tempat tinggal, dan dari sinilah semua orang biasa  mencukupi kebutuhan hidupnya. Kurangnya lahan yang ideal membuat  mereka pun rela untuk bertempat tinggal dilahan yang kumuh dan berdesak-desakan.
Pembangunan yang tidak merata antara pedesaan dan perkotaan ini pun akan mempengaruhi pada terkonsentrasinya jumlah penduduk disuatu perkotaan dapat berakibat terkonsentrasinya sumber dan timbulan sampah di perkotaan. Semakin bertambahnya penduduk Surabaya otomatis menimbulkan banyak juga sampah yang dihasilkan dari aktifitas-aktifitas penduduk Surabaya. Jumlah sampah sebanding dengan tingkat konsumsi yang kita gunakan sehari-hari. Pengolahan sampah di kota Surabaya saat ini belum dikelola secara maksimal, pengelolaan yang ada saat ini hanya terbatas pada pengolahan sampah secara konvensional yaitu hanya diangkut dari tempat penghasil sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan kemudian hanya dibuang begitu saja ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) pengolahan sampah yang ditujukan untuk mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA belum dilakukan secara optimal.
Penanganan sampah yang masih dilakukan secara konvensional belum dapat mengendalikan sampah yang ada. Sampah yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan. Polusi bau dari sampah yang membusuk, pencemaran air akibat pembuangan sampah ke sungai dan merembesnya air limba dari TPA (tempat pembuangan akhir) ke permukiman dan sumber air penduduk, serta pencemaran udara akibat pembakaran sampah merupakan permasalahan lain yang timbul akibat pembakaran sampah. Pencemaran air sungai akibat pembuangan sampah juga membawa dampak negatif pada kesehatan manusia, terutama dengan meningkatnya penyakit diare serta biaya pengolahan air baku untuk air minum yang terus meningkat. Bahkan seringkali terjadi, terutama pada musim kemarau, kualitas air baku sudah tercemar berat, akibatnya sulit diolah menjadi air yang layak diminum, sehingga bahan baku air minum harus didatangkan dari sumber yang lain.
Tumpukan sampah rumah tangga yang dibiarkan begitu saja akan mendatangkan tikus got dan serangga (lalat, kecoa, lipas, kutu, dan DLL) yang membawa kuman atau penyakit. Lalat hidup dari sisa makanan dan berkembang biak ditempat sampah. Lalat dapat menjadi pembawa utama dari kuman bakteri yang menyebabkan diare karena mudah hinggap di makanan. Nyamuk akan beranak-pinak di air yang tidak bergerak di sekitar sampah yang tercecer dan dapat menyebabkan malaria bahkan demam berdarah.
Kurangnya sarana dan prasarana tempat untuk pembuangan sampah pun kurang memadai, yang menyebabkan masyarakat membuang sampah disungai. Aliran Air sungai menjadi terhambat karna banyaknya pembuangan sampah, misalnya sampah dari rumah tangga, dari limbah pabrik atau industry DLL. Sampah yang dibuang dijalan dapat menghambat saluran air yang akhirnya membuat air terkurung dan tidak bergerak, menjadi tempat berkubang bagi nyamuk penyebab malaria. Sampah yang menyumbat saluran air atau got dapat menyebabkan banjir. Ketika banjir, air dalam got yang tadinya dibuang keluar oleh setiap rumah akan kembali masuk ke dalam rumah sehingga semua kuman, kotoran dan bibit penyakit masuk lagi ke dalam rumah.
SOLUSI :
Penanganan masalah bertambahnya sampah akibat pertambahan penduduk Surabaya yang semakin pesat dapat ditinjau dari 2 segi, yaitu dari segi penekanan urbanisasi / pertambahan penduduk Surabaya oleh pemerintah dan segi penanganan sampah itu sendiri.
1.    Penekanan Urbanisasi / Pertambahan Penduduk Surabaya oleh Pemerintah Penekanan urbanisasi / pertambahan penduduk Surabaya lebih penting dibandingkan dengan penanganan sampah yang ditimbulkan tersebut, karena penyebab adanya sampah adalah penduduk itu sendiri. Sehingga yang perlu lebih diperhatikan adalah masalah kependudukan yang ada di Surabaya. Penduduk baru yang tidak memiliki kejelasan tujuan dan tempat tinggal lebih baik dikembalikan ke daerah asalnya, karena penduduk tersebut selain menambah kepadatan penduduk Surabaya juga akan menambah angka pengangguran penduduk Surabaya.
2.    Penanganan Sampah selain penanganan masalah kependudukan, penanganan sampah yang ditimbulkan perlu dilakukan agar menimbulkan kesan kota Surabaya menjadi kota yang sehat dan bersih. Alternatif yang digunakan untuk mengurangi jumlah sampah buangan dibagi dalam tiga macam proses, yaitu daur ulang, transformasi thermal dan transformasi biologis. Dari transformasi thermal sendiri dibagi dalam tiga macam pengolahan, yaitu pembakaran. Sedangkan untuk transformasi biologis terbagi dalam dua macam pengolahan.
Dengan kita sering membuang sampah sembarangan dapat mengakibatkan penduduk sekitar terancam dengan sampah yang kita buang sembarangan. Kesadaran manusia itu sendirilah yang berperan penting disini. Jadi, mulailah dari sekarang untuk sadar dan mengubah gaya hidup serta pola konsumsi berlebihan untuk mencegah angka kemiskinan akibat sampah yang kita produksi tiap harinya demi terciptanya Kota Surabaya Green and Clean dan dapat meraih predikat Kota Adipura.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar