BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tes adalah
suatu alat yang digunakan untuk mengetahui tercapai atau tidak tercapainya
suatu standar kompetensi yang telah ditentukan dalam suatu pembelajaran.
Keberhasilan proses belajar seorang siswa dalam hal belajar mengajar di kelas
dapat dilihat dari sejauh mana penguasaan kompetensi yang telah dikuasai oleh
seluruh siswa dalam kelas tersebut.
Adanya
perbedaan individu tentu menentukan berhasil atau tidaknya para
individu-individu dalam menjalankan tugas dan kewajiban yang berupa tugas
belajar. Dengan adanya perbedaan individu tersebut maka perlu diciptakan alat
untuk mengukur keadaan individu. Dan alat pengukur tersebut disebut tes.
Tes bahasa
dan pengajaran bahasa merupakan dua kegiatan yang saling berhubungan erat.
Sehingga tes bahasa ini dirancang dan dilaksanakan untuk memperoleh informasi
mengenai hal yang berkaitan dengan keefektifan pengajaran bahasa. Oleh karena
itu dalam makalah ini disampaikan lebih lanjut mengenai jenis-jenis tes bahasa,
kriteria tujuan penyelenggaraan dan cara menilainya.
Keterampilan berbahasa mencakup keterampilan menyimak, keterampilan
berbicara, keterampilan menulis, dan keterampilan membaca. Keterampilan
menyimak dan keterampilan membaca merupakan dua kemampuan berbahasa yang
bersifat aktif reseptif.
Dalam berkomunikasi kita menggunakan keterampilan berbahasa yang telah kita
miliki meskipun setiap orang memiliki tingkatan atau kualitas yang berbeda.
Orang yang memiliki keterampilan berbahasa secara optimal setiap tujuan
komunikasinya dapat dengan mudah tercapai. Sedangkan bagi orang yang memiliki
tingkatan keterampilan berbahasa yang sangat lemah sehingga bukan tujauannya
yang tercapai tetapi malah terjadi kesalahpahaman.
B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan pengertian tes
kebahasaan?
2. Sebutkan jenis-jenis tes kebahasaan?
3. Jelaskan pengertian keterampilan berbahasa?
4. Sebutkan aspek ketermpilan berbahasa Indonesia?
C. Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui
pengertian dari tes kebahasaan
2.
Untuk mengetahui
jenis-jenis tes kebahasaan
3.
Untuk mengetahui pengertian
keterampilan berbahasa
4. Untuk mengetahui aspek keterampilan berbahasa
Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Jenis-Jenis Tes Kebahasaan
1.
Pengertian Tes
Tes adalah suatu pertanyaan atau
tugas yang terencana untukü memperoleh informasi tentang objek atau
sasaran tes yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban
atau ketentuan yang dianggap benar. Jadi, Tes bahasa adalah suatu alat atau
prosedur yang digunakan dalam melakukan penilaian dan evaluasi pada umumnya
terhadap kemampuan bahasa dengan melakukan pengukuran terhadap kemampuan
bahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
Dari segi istilah yang dimaksud tes menurut Anne
Anastasi adalah alat pengukur yang mempunyai standart yang obyektif sehingga
dapat digunakan secara meluas, serta dapat digunakan untuk mengukur dan
membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku para individu. Sedangkan menurut
Goodenough, tes adalah suatu tugas atau serangkaian tugas yang diberikan kepada
individu atau sekelompok individu untuk membandingkan kecakapan mereka satu
dengan yang lain.[1]
Jadi, tes bahasa adalah suatu alat atau prosedur yang
digunakan dalam melakukan penilaian dan evaluasi pada umumnya untuk mengetahui
kemampuan bahasa tersebut. Misalnya dengan melakukan pengukuran terhadap
kemampuan bahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
2.
Tes Kebahasaan
Tes kebahasaan merupakan bagian dari kegiatan pengajaran bahasa secara
keseluruhan. Kegiatan tes sangat diperlukan dalam pengajaran bahasa karena
berdasarkan informasi tes itulah dapat dilakukan penilaian secara objektif,
khususnya terhadap hasil belajar bahasa siswa. Informasi tentang hasil belajar
siswa tersebut, pada giliran selanjutnya, juga dapat dimanfaatkan sebagai
masukan untuk meningkatkan pengajaran bahasa selanjutnya.[2]
Berdasarkan kriteria bagaimana bahasa dikaji dan ditelaah, maka tes
dikembangkan berdasarkan pandangan yang berbeda dalam memahami hakikat bahasa.
Dari latar belakang pendekatan bahasa, jenis tes bahasa dapat dikelompokkan
menjadi:
a.
Tes diskrit
Tes diskrit adalah tes yang hanya menekankan atau menyangkut satu aspek
kebahasaan pada satu waktu. Tiap satu butir soal hanya dimaksudkan untuk
mengukur satu aspek kebahasaan, misalnya fonologi, morfologi, sintaksis, atau
kosa kata.[3]
Contoh:
|
Sasara Tes
|
Tugas
|
Butir Tes
|
Kunci Jawaban
|
|
Bunyi Bahasa
|
Tuliskan konsonan cara pengucapannya dengan alat ucap saling bersentuhan
yang terdapat pada pelafalan kata-kata berikut
|
Baik, pun,
Minum
|
/b//p/
/m/
|
|
Kosakata
|
Tulislah lawan kata dari kata-kata berikut
|
Riuh, menulis,
hidup
|
Sunyi
membaca
mati
|
|
Tata Bahasa
|
Tulislah kata baku dari kata-kata berikut
|
Nopember, apotik,
ijin
|
November, apotek,
Izin
|
b.
Tes integratif
Tes integratif adalah suatu tes kebahasaan yang berusaha mengukur beberapa aspek
kebahasaan atau keterampilan berbahasa pada satu waktu.[4]
Contoh:
·
Memahami bacaan yang dibaca atau yang didengar.
·
Kata rekonsiliasi pada alinea pertama bacaan di atas berarti:
a) Kerukunan kembali
b) Perundingan kembali
c) Perhubungan kembali
d) Pengertian perselisihan
c.
Tes pragmatik
Dalam tes pragmatif tidk lagi ditemui adanya tes struktur atau kosa kata
atau unsur-unsur kebahasaan yang lain secara sendiri, melainkan semua unsure
kebahasaan dan bahkan langsung dikaitkan dengan unsur ekstralinguistik sekaligus.[5]
Contoh tes komprehensi dengar dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:
Rangsang yang
diperdengarkan
ü Pram yang datang pukul
10.00 lebih dahulu daripada Zam, tetapi terlambat satu jam daripada Zul.
Jawaban dalam lembar
tugas
a) Pram datang paling dahulu
b) Zul datang sesudah Zam
c) Zul datang sebelum Zam
d) Zan datang sebelum Pram
d.
Tes komunikatif
Tes bahasa komunikatif ialah tes yang biasanya tidak digunakan untuk
mengukur kemampuan gramatikal, yang lebih menitikberatkan pada komunikasi. Tes
yang dimaksud untuk memberi tugas kepada peserta tes melakukan kegiatan dengan
kemampuan bahasa tertentu, dengan kaitan yang jelas dengan konteks
nyata.termasuk kemampuan komunikatif, tes komunikatif perlu dikembangkan.[6]
Secara konkrit tes komuniktif akan melibatkan tes kompetensi kebahasaan dan
keempat kemampuan berbahasa, yaitu menyimak, membaca, berbicara, dan menulis.
Tes terhadap keempat aspek itu harus kontekstual, artinya harus berada dalam
situasi pemakaian yang sesungguhnya, wajar, dan berada dalam konteks tertentu.
Untuk memudahkan mencari pemakain bahasa yang kontekstual yang dapat
diteskan, kita dapat memanfaatkan media elektronika televisi yang dewasa ini
semakin suntuk dinikmati masyarakat. Kita dapat menugasi siswa untuk mencermati
siaran-siaran tertentu, misalnya film-film kartun, film anak-anak, sinetron,
warta berita, dan lain-lain. Pencermatan terhadap acara-acara tersebut kemudian
dimanfaatkan untuk tugas menyimak, membaca, berbicara, dan menulis.[7]
3.
Tes Kompetensi Kebahasaan
Tes kosa kata
Kemampuan memahami kosa
kata terlihat dalam kegiatan membaca dan menyimak, sedang kemampuan
mempergunakan kosa kata tampak dalam kegiatan berbicara dan menulis. Oleh
karena itu, tes keampuan kosa kata biasanya langsung dikaitkan dengan kemampuan
reseptif dan produktif bahasa secara keseluruhan. Misalnya, tes pemahaman
kata-kata sulit yang terdapat dalam sebuah bacaan dalam rangka tes kemampuan
membaca.
Bahan tes kosa kata
Faktor-faktor yang
perlu dipertimbangkan dalam pemilihan bahan tes kosa kata adalah sebagai berikut:
a.
Tingkat dan jenis sekolah
Faktor pertama yang
perlu dipertimbangkan dalam pemilihan bahan tes kosa kata adalah subjek didik
yang akan dites. Pembedaan kosa kata yang diteskan pada umumnya didasarkan pada
buku pelajaran yang digunakan untuk masing-masing tingkat dan kelas yang
bersangkutan.
b.
Tingkat kesulitan kosa kata
Pemilihan kosa kata
yang diteskan hendaknya juga mempertimbangkan tingkat kesulitannya, tidak
terlalu mudah atau tidak terlalu sulit, atau butir-butir tes kosa kata yang
tingkat kesulitannya layak. Sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa,
tentunya tingkat kesulitan kosa kata tidak sama bagi siswa untuk tingkat
sekolah yang berbeda.
c.
Kosa kata pasif dan aktif
Pemilihan kosa kata
hendaknya mempertimbangkan apakah ia dimaksudkan untuk tes penguasaan kosa kata
yang bersifat pasif atau aktif. Kosa kata pasif adalah kosa kata untuk
penguasaan reseptif, kosa kata yang hanya untuk dipahami dan tidak untuk
dipergunakan. Kosa kata aktif adalah kosa kata untuk penguasaan produktif, kosa
kata yang dipergunakan untuk menghasilkan bahasa dalam kegiatan berkomunikasi.
d.
Kosa kata umum, khusus, dan ungkapan
Tes kosa kata hendaknya
juga mempertimbangkan adanya kata yang bermakna denotatif dan konotatif, atau
ungkapan-ungkapan. Baik untuk kata yang bermakna denotatif maupun konotatif
mempunyai perbedaan tingkat-tingkat kesulitan.
Tingkatan tes kosa kata
a.
Tes kosa kata tingkat ingatan
Tes kosa kata pada
tingkat ingatan (C1) sekedar menuntut kemampuan siswa untuk mengingat makna,
sinonim, atau antonim sebuah kata, definisi atau pengertian sebuah kata,
istilah, atau ungkapan.
Contoh:
ü
Besar kepala
a) Pengantuk
b) Sombong
c) Pusing
d) Pembual
ü
Mengingau
a) Berkata-kata pada diri
sendiri
b) Berkata-kata pada waktu
tidur-tiduran
c) Berkata-kata pada waktu
tak sadarkan diri
d) Berkata-kata pada waktu
menangis
b.
Tes kosa kata tingkat pemahaman
Tes kosa kata tingkat
pemahaman (C2) menuntut siswa untuk dapat memahami makna, maksud, pengetian,
atau pengungkapan dengan cara lain kata-kata, istilah, atau ungkapan yang
diujikan. Berbeda halnya dengan tes kosa kata tingkat ingatan, walaupun
sama-sama bersifat reseptif, kosa kata yang diteskan harus selalu dalam
kaitannya dengan konteks.
Bentuk teks kosa kata
tingkat pemahaman dapat berupa latihan menerangkan kata-kata sendiri atau ungkapan
yang ditentukan (biasanya digaris bawah atau disebut kembali), atau dapat
berupa tes objektif pilihan ganda.
Contoh:
ü
Jelaskan maksud kata “kontemporer” yang terdapat bacaan di atas.
c.
Tes kosa kata tingkat penerapan
Tes kosa kata tingkat
penerapan (C3) menuntut siswa untuk dapat memilih dan menerapkan kata-kata,
istilah, atau ungkapan tertentu dalam suatu wacana secara tepat, uatu
mempergunakan kata-kata tersebut untuk menghasilkan wacana.
Tes kosa kata untuk
menghasilkan wacana biasanya berupa tugas untuk menyusun kalimat dengan
kata-kata dan pikiran sendiri berdasarkan kata, istilah, atau ungkapan yang
disediakan.
Contoh:
ü
Buatlah kalimat dengan menggunakan kata-kata di bawah ini:
a) Komoditi
b) Produktivitas
c) Bermuka dua
d) Pengejawantahan
d.
Tes kosa kata tingkat analisis
Untuk dapat mengerjakan
tes kosa kata tingkat analisis (C4), siswa dituntut untuk melakukan kegiatan
otak (kognitif) yang berupa analisis, baik hal itu berupa analisis terrhadap
kosa kata yang diujikan maupun analisis terhadap wacana tempat kata tersebut
(akan) diterapkan.
Bentuk tes jenjang
anlisis di atas dapat juga dijadikan bentuk objek penjodohan (menjodohkan).[8]
Contoh:
a) Dari seorang ilmuan
seperti Umar Yunus telah banyak tulisa yang ditelorkan berdasarkan (1) ……………
kesastraannya. (2) …………. Yang dicapainya mencerminkan ketekunan dan kesungguhan
kerja, sebagaimana halnya seorang (3) …………… yang sedang menekuni masalah (4)
……………. Tentang suatu kejahatan. (5) ………….. dari kerja seperti itu sebenarnya
tidaklah terlalu melimpah.
b) (a) hasil (b) alat Negara (c)
pendalaman
(d) pendapatan (e) penelitian (f) abdi Negara
(g) penyelidikan
B. Keterampiln Berbahasa Indonesia
1.
Pengertian Keterampilan Berbahasa
Indonesia
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Keterampilan adalah kecakapan
untuk menyelesaikan tugas dan Bahasa adalah kecakapan seorang untuk memakai
Bahasa dalam menulis, membaca, menyimak atau berbicara. Keterampilan Berbahasa
merupakan hal yang penting bagi seorang pelajar khususnya, karena dengan
menguasai keterampilan berbahasa seseorang akan lebih mudah dalam menangkap
pelajaran dan memahami suatu maksud.
Keterampilan berbahasa merupakan sesuatu yang penting untuk
dikuasai setiap orang. Dalam suatu masyarakat, setiap orang saling berhubungan
dengan orang lain dengan cara berkomunikasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa
keterampilan berbahasa adalah salah satu unsur penting yang menentukan
kesuksesan mereka dalam berkomunikasi.
2.
Aspek Ketrampilan Berbahasa
Tarigan (1990: 351) membagi keterampilan berbahasa meliputi empat
aspek.
Empat aspek tersebut, yaitu :
Empat aspek tersebut, yaitu :
a.
Keterampilan Menyimak
Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan
dengan penuh perhatian,pemahaman,apresiasi serta interpretasi untuk memperoleh
informasi,menangkap isi atau pesan ,serta memahami makna komunikasi yang telah
disampaikan sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Permasalahan dalam
menyimak :
1.
Konsentrasi
Faktor yang mengganggu konsentrasi saat menyimak yaitu :
a) Situasi dan kondisi
lingkungan yang tidak nyaman
b) Pakaian pembicara
c) Orang yang datang
terlambat
d) Kurangnya penguasaan
kata-kata ilmiah
e) Cara pembicara
menyampaian materi yang kurang menarik
Solusinya yaitu kita harus senantiasa menjaga pikiran agar selalu fokus dan
berpusat pada objek pembicaraan,selain itu juga yang terpenting yaitu niat dan
motivasi dari diri kita sendiri.
2.
Pendengaran
Kurangnya data dengar yang baik dan jelas dikarenakan bisingnya suasana
lingkungan,karena ada gangguan pendengaran dan kurangnya alat yang medukung
dalam kegiatan penyampain materi.
Solusi untuk mengatasi hal tersebut yaitu kita harus selalu berkonsentrasi
supaya apa yang disampaikan dapat kita terima dengan baik,apabila terdapat
masalah dalam pendengaran sebaiknya diperiksakan ke dokter,dan dalam
menyampaikan bahan simakan sebaiknya memakai alat bantu seperti microfon,auto
focus,dan lain-lain.
3.
Pemahaman
Hal-hal yang menjadi
penghambat proses pemahaman bahan simakan yaitu pembicara menggunakan kata-kata
yang kurang baku,susunan kalimat yang tidak baik,dan kemampuan mengolah kalimat
yang kurang baik.
Solusi untuk hal
tersebut yaitu seharusnya pembicara menggunakan kata-kata yang baku,materi yang
disampaikan harus memiliki susunan kalimat yang baik,dan sebagai penyimak haris
berlatih untuk meningkatkan kemampuan otak dalam konsentrasi dan mengolah isi
kalimat yang disampaikan.
4.
Cepat Lupa/Daya Ingat
Daya ingat yang kurang
bisa menjadi penghambat dalam mengerti isi dari bahan simakan tersebut.Oleh
karena itu kita dapat mencatat poin-poin penting dari materi tersebut,mereview
catatan secara periodik,memperhatikan pembicara dengan seksama.
Ada beberapa langkah
khusus dalam meningkatkan kemampuan mengingat adalah sebagaimana dijelaskan
oleh De Potter (2009) :
a) Duduk di ruangan dengan
pencahayaan yang baik.
b) Gambarkan dengan nyata
sesuatu yang bersifat abstrak.
c) Buat sesuatu yang ingin
diingat menjadi lucu,bahkan aneh sekalipun.
d) Baca obyek pertama dan
kedua,ucapkan keduanya dengan keras dan lantang tanpa melihat tulisan.
e) Ulangi cara ini sampai
benar-benar bisa mengucapkannya tanpa bantuan tulisan.
f) Setiap selesai mengingat
obyek,ulangi ucapannya tanpa tulisan dengan lantang
g) Jika tidak bisa melakukannya dengan baik,ulangi mulai dari awal.
h) Setelah yakin bisa
mengingatnya istirahatlah 10-20 menit.
i) Uji kembali,jika masih
belum bisa mengingat dengan baik,gunakan cara-cara memonic, misalnya dengan
mengingat kata awal, akronim, menyanyikan, atau membuat kategori.[9]
5.
Motivasi
Faktor yang menjadi
penyebab menurunnya motivasi kita untuk menyimak yaitu cara penyampaian materi
yang jenuh serta rasa malas untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Untuk meningkatkan
motivasi,kita harus menguatkan tekad dan niat untuk mendapatkan ilmu dari
simakan tersebut,melawan rasa malas itu dengan cara mengingat akan manfaat dari
isi simakan tersebut,dan memiliki rasa keingintahuan dalam simakan tersebut.
6.
Situasi dan Kondisi
Situasi dan
kondisi yang kurang baik akan mengganggu konsentrasi kita saat
menyimak.Berkaitan dengan hal tersebut sebaiknya kita memperhatikan situasi dan
kondisi ruangan yaitu mengenai ketenangan ruangan,tempat yang dibutuhkan,dan alat-alat
yang perlu dilibatkan,serta harus siapkan fisik dan mental yang baik dan tidak
lelah.
7.
Bahasa/Kosakata
Bahasa yang digunakan
harus disesuaikan dengan keadaan yang ada,memperbanyak membaca karena dari sana
kosakata kita akan bertambah,mencari tahu arti dari kata yang belum kita
tahu,serta konsentrasi agar kita dapat memahami materi yang sedang kita simak.
Cara memperluas kosa
kata seseorang antara lain dapat dikemukakan:melalui proses belajar,melalui
konteks,melalui kamus,kamus sinonim dan tesaurus,dan dengan menganalisa
kata-kata.[10]
b.
Keterampilan Berbicara
Permasalahan dalam
keterampilan berbicara :
1.
Kepercayaan
diri
Percaya diri merupakan
suatu apresiasi bagi diri sendiri.Faktor kurangnya kepercayaan diri kita yaitu
selalu gemetar,tegang,kurang pengalaman,belum terbiasa berbicara ,kurang
persiapan,dan pemalu sehingga sulit berbicara.
Solusi untuk
permasalahn tersebut yaitu hendaknya sebelum berbicara kita berdoa terlebih
dahulu,selalu berpikir positif dan tenang,yakin dan fokus pada apa yang tengah
kita sampaikan,sering berkumpul dengan orang yang pandai berbicara,melatih
berbicara yaitu bisa dengan berbicara di depan kaca atau di tempat sepi,sikap
kita harus sipan,menebar senyum,dan berpakaian rapi,serta mempersiapkan
kerangka pembicaraan.
Untuk mengurangi rasa
gugup saat membawakan materi kita harus menjadi diri sendiri,biarkan
personalitas anda menjadi rileks,gunakan teknik menari nafas dalam,mulai
presentasi dimana anda merasa nyaman atau latihan dengan teman bagi perasaan
takut dengan teman.[11]
2.
Pengetahuan
Kurangnya pengetahuan
tentang apa yang akan dibicarakan dapat disebabkan karena kita tidak rajin
membaca,sehingga saat akan menyampaikan materi kita akan tidak percaya
diri.Solusinya yaitu rajin membaca,jadikan membaca sebagai kebutuhan.
3.
Penyampaian
Cara
penyampaian materi yang kurang baik akan membuat pendengar merasa bosan.Hal itu
disebabkan karena percaya diri yang kurang ,ekspresi yang kurang,persiapan yang
kurang dan pemberian penyegaran yang kurang.Oleh karena itu agar cara kita
menyampaikan materi baik kita harus melakukan persiapan yang maksimal yaitu
dengan membaca dan menguasai materi,berkatih berbicara/menyampaikannya dengan
bahasa lisan yang baik dan melatih keterampilan dalam berbicara.
4.
Topik/materi
Salah satu masalah
dalam keterampilan berbicara yaitu materi yang disampaikan kurang menarik.Oleh
sebab itu sebelu kita menyampaikan materi kita harus pintar dan kreatif mencari
topik yang sedang hangatdibicrakan di umum,dan bertanya kepada yang ahli untuk
menambah informasi.
Untuk memilih sebuah
topik yang baik,maka pembicara harus memerhatikan beberapa aspek berikut :
a) Topik yang dipilih
hendaknya telah diketahui serba sedikit,serta ada kemungkinan untuk memperoleh
lebih banyak keterangan atau informasi.
b) Persoalan yang
dibawakan hendaknya menarik perhatian pembicara sendiri.
c) Persoalan yang
dibicrakan hendaknya menarik pula perhatian pendengar. Suatu topik dapat
menarik perhatian pendengar karena : Topik itu mengenai persoalan para
pendengar sendiri, Merupakan suatu jalan keluar dari suatu persoalan yang
sedang dihadapi, Merupakan persoalan yang ramai dibicarakan dalam masyarakat
atau persoalan yang jarang terjadi, Persoalan yang dibawakan mengandung konflik
pendapat, Persoalan yang dibahas tidak boleh melampaui daya tangkap pendengar
atau sebaliknya terlalu mudah untuk gaya intelektual pendengar dan Persoalan
yang dibawakan dalam penyajian itu harus dapat diselelsaikan dalam waktu yang
disediakan.Bila penyajian itu melampaui waktu yang ditetapkan ,maka perhatian
pendengar akan merosot dan bahkan akan lenyap sama sekali.[12]
5.
Penguasaan
materi
Masalah yang
dihadapi yaitu kurangnya memahami materi yang akan dibicarakan dan malas
memahmi materi.Solusinya yaitu rajin membaca buku agar dapat menguasai materi
yang akan disampaikan.
6.
Situasi dan
kondisi
Pembicara harus
menyiapkan diri lahir maupun batin,suasana harus mendukung kegiatan
tersebut,sarana dalam proses berbicara harus disesuaikan dengan kebutuhan,serta
menyesuaikan pembicaraan dengan keadaan yang sedang berlansung saat itu dan
perhatikan psikologi pendengaran.
Aristoteles
mengemukakan bahwa situasi itu mencakup psikologi pendengaran :tua -muda,
kaya-miskin dan sebagainya. Situasi juga mencakup tujuan berbicara yaitu apakah
pidato itu dimaksudkan untuk pengadilan, politik, pementasan atau ibadah. Atau
apakah pidato bersifat umum atau khusus.[13]
7.
Penampilan
Penampilan
adalah penentu keberhasilan dalam berbicara.Oleh karena itu penampilan harus
disesuaikan dengan keadaan acara,untuk menarik perhatian pendengar,kita harus
berani berbicara di depan umum,serta kondisi tubuh harus fit.
8.
Diksi/pengetahuan
bahasa (verbal)
Permasalahn dalam
pengetahuan bahasa yaitu meliputi bahasa / pilihan kata
yang tidak mudah di mengerti, berbicara
dengan kosa kata yang salah, ketika
melafalkan kosa kata tidak di bacakan kepanjangannya .Oleh karena itu pengucapan dalam jeda kata-kata di
sesuaikan oleh kemampuan pendengar,bahasa yang baik dan
benar terlihat dengan meyakinkan si pendengar,apabila ada singkatan kata maka disebutkan
arti singkatannya.
c.
Keterampilan Membaca
Membaca adalah kegiatan merespon lambang-lambang cetak atau lambang-lambang
tulis dengan pengertian yang tepat untuk mendapatkan informasi. Permasalahan
dalam membaca:
1.
Pemahaman
Membaca pemahaman merupakan jenis kegiatan memahami isi bacaan secara
mendalam.Membaca pemahaman menuntut kegiatan mengingat agar dapat mengetahui
dan mengingat hal-hal pokok.
Permasalahan yang dihadapi dalam hal ini yaitu lambatnya memahami materi
bacaan yang dibaca.Solusinya yaitu kita harus benar-benar konsentrasi dan fokus
ketika membaca,menandai hal-hal penting dari bacaan tersebut,menanyakan hal-hal
yang belum difahami kepada orang yang sudah faham,dan menghayati maksud dari
bacaan tersebut.
2.
Penguasaan kosakata
Penguasaan kosakata bahasa yang masih kurang menjadi kendala dalam proses
membaca.Oleh karena itu kita seharusnya memperluas dan memperbanyak pengetahuan
kosakata yaitu dengan cara sering membaca dan mencari kosakata dalam kamus
besar bahasa Indonesia,mencari sinonim dari kata-kata tersebut,memperbanyak
membaca bacaan,dan banyak berkomunikasi dengan orang-orang sehingga kosakata
bahasa kita menjadi bertambah.
3.
Konsentrasi
Konsentrasi ketika membaca yang kurang maksimal bisa disebabkan karena
situasi dan kondisi kita yang kurang mendukung,ataupun minat membaca kita yang
kurang sehingga proses membaca tidak efektif.
Solusi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu hendaknya kita memfokuskan
fikiran kita terhadap bahan bacaan,cari tempat yang mendukung kenyamanan saat
membaca,pikirkan manfaat membaca untuk masa depan dan tingkatkan minat kita
dalam membaca.
4.
Motivasi
Kurangnya motivasi untuk membaca,rasa malas dan bosan merupakan hal
yang menjadi faktor kurangnya keinginan kita dalam membaca.Untuk meningkatkan
motivasi kita dalam membaca ada baiknya kita mencari buku yang menarik,paksakan
dalam hati bahwa membaca itu merupakan suatu kebutuhan,dan ingatlah manfaat
dari membaca untuk kemudian hari.
5.
Inti bacaan
Mengalami kesulitan mencari gagasan utama ketika membaca merupakan hal yang
dapat mengganggu kegiatan membaca karena kita tidak akan tahu isi dari bacaan
tersebut.Gagasan utama dapat ditemukan di awal paragraf (deduktif) dan di akhir
paragraf (induktif).Kalimat utama memiliki ciri-ciri yaitu kalimat tersebut
tidak memiliki kata penghubung,berdiri sendiri,dan tidak menggunakan kata ganti
tunjuk atau orang. Untuk menemukan ide pokok dengan cepat,berikut ini
langkah-langkahnya :
a)
Bacalah bacaan dengan cermat untuk mendapatkan ide pokok secara
cepat,jangan membaca kata demi kata,tapi seraplah idenya,bergeraklah lebih
cepat tapi jangan kehilangan pengertian
b)
Meskipun kalian membaca dengan cepat,kalian jangan terlalu cepat membaca di
luar hal yang normal sehingga kehilangan pemahaman
c)
Jangan tergesa-gesa hingga mengkibatkan ketegangan
d)
Berkonsentrasi dan lepaskan dunia luar.
6.
Rendahnya kecepatan membaca
Untuk kegiatan membaca cepat ada dua teknik yang dapat kita terapkan yaitu
teknik pindai (scanning) dan teknik layap (skimming). Teknik meningkatkan
kecepatan membaca :
a)
Biasakan membaca dalam kelompok-kelompok kata,hindari membaca kata demi kata
b)
Jangan mengulang-ulang kalimat yang telah dibaca
c)
Jangan terlalu berhenti lama diawal baris atau kalimat
d)
Cari kata-kata kunci yang menandai adanya gagasan utama sebuah kalimat
7.
Gerak bibir/vokalisasi
Gerakan bibir dan vokalisasi akan menyebabkan kecepatan baca turun
drastis menjadi setara kecepatan bicara. Hindari hal tersebut. Cara mudah untuk
mengurangin gerakan bibir dan vokalisasi adalah dengan meletakkan pensil
diantara kedua bibir Anda. Jika mulut mulai berbicara, anda akan merasakan
pensil yang jatuh dan ulangi terus sampai kebiasaaan tersebut hilang.
8.
Keadaan ketika membaca
Siapkan kondisi yang baik,tidak boleh sambil tiduran,posisi duduk
dalam keadaan tegak,tangan berada diatas meja,dan buku berada di depan mata.
d.
Keterampilan Menulis
Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk
berkomunikasi secara tidak langsung,tidak secara tatap muka dengan orang lain.
Permasalahan dalam keterampilan menulis :
1.
Tata kalimat
Cara untuk menghindari
tata kalimat yang tidak beraturan :
a)
Perhatikan susunan pembahasan
b)
Perhatikan SPOK
c)
Perhatikan EYD
d)
Perhatikan alinea
2.
Tidak terbiasa
Menulis akan tersa sulit karena kita belum terbiasa menulis,oleh karena itu
agar kita terbiasa dengan menulis kita harus terus mencoba,tulislah apa yang
ada di dalam pikiran kita,jangan takut dengan tulisan kita yang jelek,jangan
memikirkan teori menulis.
3.
Tata tulis
Tata tulis yang baik dan benar itu sangat diperlkan dalam menulis
karya ilmiah.Permasalahannya kita sering kali tidak mengetahui tata bahas yang
benar.Oleh karena itu kita harus cermat dalam memakai kata-kata yang benar dan
sesuai dengan EYD,bukan hanya itu tanda baca pun harus diperhatikan agar tidak
menimbulkan salah arti.
4.
Motivasi
Faktor penghambat dalam keterampilan menulis yaitu motivasi yang masih
kurang,hal itu disebabkan oleh rasa cepat capek,tulisan yang kurang
sisitematis,tidak mengerti mengenai tulisan yang baik sehingga semua itu
menjadikan kita malas untuk menulis.
Solusinya yaitu kita harus dipaksakan untuk menulis walaupun hanya
perfaragraf,sering berlatih menulis.mempersiapkan fisik dan mental,serta berdoa
kepada Tuhan.
5.
Pengetahuan
Pengetahuan kita yang kurang akan menghambat kegiatan proses
menulis,karena menulis itu memerlukan ide yang dan pengetahuan yang luas.Maka
kita harus memperbanyak ilmu pengetahuan dan sering mencari informasi dimanapun
itu.
6.
Kecepatan
Lambanya kita menulis dapat menyebabkan tertinggalnya informasi penting
yang harus di tulis,hal itu bisa disebabkan karena penyajian materi yang
terlalu cepat atau karena ada hal yang mengganggu.
Maka agar kegiatan menulis itu cepat sebaiknya menulis dengan menyingkat
sesuai dengan perkataan yang kita mengerti,tutup aplikasi yang sekiranya dapat
mengganggu kita saat menulis,dan sering membiasakan diri untuk menulis.
7.
Kurang percaya diri
Faktor penghambatnya yaitu pemalu dan kurang berlatih menulis.Solusinya
ialah kembangkan ekspresi,hilangkan kata, rasa dan pikiran malu,memiliki
motivasi,dan hilangkan rasa takut.
8.
Menentukan tema
Kesulitan dalam menentukan tema suatu bahan pembicaraan disebabkan oleh
keterbatasan ide,minimnya kosakata,dan tidak fokusnya tema.Sehinnga kita harus
benar-benar memiliki ide yang kreatif,selanjutnya membuat kerangka tema,membuat
poin-poin tema lalu membuat tema yang sesuai. Cara menentukan topik dan tema
yang baik :
a)
Sesuatu yang menarik perhatian
penulis,topik yang menarik perhatian akan memotivasi penulis secara terus
menerus,mencari data-data untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dan
akan dituangkan dalam tulisannya.
b)
Usahakan topik merupakan hal yang umum diketahui oleh penulis karena hal
ini penting sebagi bahan eksplorasi dan sangat berguna untuk mengembangkan
tulisan.
c)
Topik hendaknya bukan hal yang terlalu luas atau terlalu sempit.
d)
Topik yang dipilih hendaknya bermanfaat,ditinjau dari segi akademis dapat
mengembangkan ilmu pengetahuan dan dapat berguna dalam kehidupan sehari-hari
maupun dari segi praktis.
e)
Topik bukanlah sesuatu yang terlalu baru,terlalu teknis,dan terlalu
kontroversial.Topik yang terlalu baru akan menyulitkannya dalam mencari
referensi karena memang belum ada.Topik yang terlalu teknis kemungkinan dapat
menjebak penulis bila tidak benar-benar menguasai bahan penulisannya.Topik yang
terlalu kontroversial akan menimbulkan kesulitan untuk bertindak secara
obyektif.[15]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tes adalah suatu pertanyaan atau
tugas yang terencana untukü memperoleh informasi tentang
objek atau sasaran tes yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut
mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar.
Tes kebahasaan merupakan bagian dari kegiatan pengajaran bahasa secara
keseluruhan. Kegiatan tes sangat diperlukan dalam pengajaran bahasa karena
berdasarkan informasi tes itulah dapat dilakukan penilaian secara objektif,
khususnya terhadap hasil belajar bahasa siswa. Informasi tentang hasil belajar
siswa tersebut, pada giliran selanjutnya, juga dapat dimanfaatkan sebagai
masukan untuk meningkatkan pengajaran bahasa selanjutnya.[16]
Jenis tes bahasa dapat dikelompokkan menjadi:
e.
Tes diskrit
f.
Tes integratif
g.
Tes pragmatik
h.
Tes komunikatif
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Keterampilan adalah kecakapan
untuk menyelesaikan tugas dan Bahasa adalah kecakapan seorang untuk memakai
Bahasa dalam menulis, membaca, menyimak atau berbicara. Keterampilan Berbahasa
merupakan hal yang penting bagi seorang pelajar khususnya, karena dengan
menguasai keterampilan berbahasa seseorang akan lebih mudah dalam menangkap
pelajaran dan memahami suatu maksud. Empat aspek keterampilan berbahasat, yaitu
:
e.
Keterampilan Menyimak
f.
Keterampilan Berbicara
g.
Keterampilan Membaca
h.
Keterampilan Menulis
DAFTAR
PUSTAKA
Alek dan Ahmad,
2010, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Kencana
Prenada Media.
Kerap, Gorys,
1984, Diksi dan Gaya Bahasa, Jakarta: Nusa Indah.
Mafrukhi,
Wahono, dkk, 2007, Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca, karangan
Nurhadi, Jakarta: Erlangga.
Nurgiantoro,
Burhan, 2001, Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra, Yogyakarta:
BPFE-YOGYAKARTA.
Septi
Gumiandari, Faqihuddin, Muslihuddin, dan Fuad Faizi, 2012, Succes Guide,
dijelaskan oleh De Potter, Cirebon: Nurjati Press.
Sudjiono,
Anas, 2009, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Raja Prees.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar