FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
1.
Bersifat
Theosentris (berkisar sekitar Tuhan).
a.
Dalil
Al-Quran

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata anaknya, di waktu ia member
pelajaran kepadanya:“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan
(Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S.Lukman:13)
b. Dalil Hadits
عن جابر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ان الله تعالى
لا يقبل من العمل الا ما كان خا لصا وابتض به رضاه (رواه نسائ)
Artinya: “Dari Jabir RA ia
berkata: Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya Allah SWT tidak akan menerima
amal seseorang kecuali dengan niat yang tulus dan semata-mata mencari
keridhoan-Nya”.[1]
c.
Pendapat
Ulama
Muhammad
ibn Muhammad yang dikenal dengan nama Abu Manshur al-Maturidi adalah salah
seorang salaf terkemuka di kalangan Ahlussunnah, “Sesungguhnya Allah ada tanpa
permulaan dan tanpa tempat. Tampat adalah makhluk memiliki permulaan dan bisa
diterima oleh akal jika ia memiliki penghabisan. Namun Allah ada tanpa
permulaan dan tanpa penghabisan, Dia ada sebelum ada tempat, dan Dia sekarang
setelah menciptakan tempat Dia sebagaimana sifat-Nya yang Azali;ada tanpa
tempat. Dia maha suci (artinya mustahil) dari adanya perubahan, habis, atau
berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lain” (Kitâb at-Tauhîd,)
d.
kesimpulan
kita belajar atau mengajar harusi
Lillahi Ta’ala dengan niat yang ikhlas.Thalabul ilmi
Lil’ibadah yang mana implikasinya adalah surga dan
neraka.Dalam filsafat pendidikan Islam ini dipercayai adanya barokah.
2.
Berdasarkan
wahyu (Al-Quran, Hadits dan pemikiran ulama yang didasarkan pada Al-Qur’an dan
Hadits)
a.
Dalil
Al-Quran
“Kitab
(Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”
(Q.S.Al-Baqarah:2)
b.
Dalil
Hadits
تَرَكْتُ ِيْكُمْ اَمْرَيْنِ مَا اِنْ تَمْسَكْتُمْ بِهِمَا
لَنْ تَضِلُّوْا اَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ (رَوَاهُ َاكِمْ)
Artinya:“Telah aku
tinggalkan kepada kalian semua dua perkara yang jika kalian berpegang teguh
padanya maka tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitab Allah (Al-Qur’an)
dan Sunnah Nabi-Nya.” [2]
c. Pendapat Ulama
Para
ulama ushul fiqih mazhab Syi'ah Itsna Asyariyah (dua belas imam) memiliki
konsep dan pandangan dalam bentuk sebagai berikut: Tuhan adalah pencipta akal
dan "pemimpin" masyarakat berakal serta Tuhan pulalah yang
menganugrahkan wahyu dan agama untuk manusia, maka tak mungkin wahyu dan agama
tak sesuai dengan akal, dan jika tak ada kesesuaian maka akan terjadi inner
kontradiksi dalam ilmu Tuhan..
d. Kesimpulan:
Wahyu adalah
petunjuk dari Allah yang diturunkan hanya kepada para Nabi dan Rosul. Dalam hal ini Filsafat pendidikan Islam
bersumber dari wahyu yang berupa Al-Qur’an, Hadits, dan Pemikiran Ulama yang
Didasarkan pada al Qur’an dan Hadits.
3.
Meyakiniadanya yang Ghoib
:
a.
Dalil
Al-Quran


“Brakata
Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup
membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai
orang-orang yang berserah diri”.
Berkata ‘Ifrit
(yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa
singgasana itu kepada sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya
aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya."
Berkatalah
seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana
itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat
singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia
Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan
nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri
dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha
Mulia".(Q.S. An-Naml: 38 – 40)
b.
Dalil
Hadist
Artinya:“Telah aku
tinggalkan kepada kalian semua dua perkara yang jika kalian berpegang teguh
padanya maka tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitab Allah (Al-Qur’an)
dan Sunnah Nabi-Nya.” [3]
c. Pendapat Ulama
Ghaib adalah segala sesuatu yang tersembunyi dan tidak terlihat
oleh manusia, seperti surga, neraka dan apa yang ada di dalamnya, alam
malaikat, hari akhir, alam langit dan yang lainnya yang tidak bisa diketahui
manusia kecuali bila ada pemberitaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. (Lihat
Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 1/53). Dalil lainnya, “Bacalah al quran dan janganlah
menjauh dari al qur’an, jangan ghuluw atas al qur’an, dan janganlah makan
dengan qur’an, dan jangan memperbanyak harta dengan al qur’an”.
d. Kesimpulan
Bukan hanya sekedar mengajarkan yang
ghoib, tetapi juga bagaimana cara meyakininya, begitu juga kontekstualisasi
materi yang tidak ghoib dengan nilai-nilai ghaibiyah-Nya (nilai-nilai ke-Esa-an
Allah).
4.
Belajar
mengajar adalah sama dengan ibadah, dan selalu dikaitkan dengan pengabdian
kepada Allah
a.
Dalil
Al-Quran

Katakanlah:
"Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah
menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali
lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S. Ankabut: 20)
b.
Dalil
Hadits
عن ابى در قال
عليه الصلاة والسلام : يا ابا در للأن تخدو فتعلم بابا من كتب الله تعا لى خيرا لك
من ان تصلى مانة ركعة (رواه ابن ماجه)
Artinya: “Abu Dar berkata: Rasulullah SAW bersabda: Ya Abu
Dar seandainya kau pergi pagi lalu kemudian mempelajari ilmu satu bab dari
kitab Allah SWT maka itu lebih baik dibanding kau melaksanakan shalat seratus
rakaat”.[4]
c. Pendapat Ulama
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Allah
menyebutkan bahwa kepemimpinan dalam agama itu akan didapatkan dengan sebab
kesabaran dan keyakinan, sebagaimana pada surat as-Sajdah ayat 24.Hal ini
karena agama itu semuanya adalah ilmu tentang kebenaran dan mengamalkannya.Oleh
karena itu, orang yang mengamalkan (ilmunya) harus bersabar.Bahkan, dalam hal
mencari ilmu pun, seseorang sangat membutuhkan kesabaran. (at-Tuhfatul
‘Iraqiyah, hlm. 254)
d. Kesimpulan:
Belajar
haruslah jisman, ruhan dan do’a. Dengan kata lain dia adalah orang yang benar-benarkhidmad
dalamBeribadahKepadaAllah.
5.
Meyakini
adanya kehidupan sebelum dan sesudah mati
a.
Dalil
Al-Quran

“(yaitu) mereka
yang beriman kepada yang ghoib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan
sebagian riski yang kami anugrahkan kepada mereka”. Dan mereka yang beriman
kepada Kitab (Al-quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang
telah ditunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah
orang-orang yang beruntung”. (Q.S. Al-baqarah 3-5)
b.
Dalil
Hadits
وأنكروا شفاعة رسول الله صلى الله عليه وسلم للمذنبين ودفعوا الروايات في ذلك عن السلف المتقدمين وجحدوا عذاب القبر وأن الكفار في قبورهم يعذبون وقد أجمع على ذلك الصحابة والتابعون رضي الله عنهم أجمعين
c.
PendapatUlama’
Mohammad Athiyah abrosyi
berpendapat bahwa tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yaitu persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan
Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi keagamaan saja dan tidak hanya dari
segi keduniaan saja, tetapi dia menaruh perhatian kepada keduanya sekaligus.
d.
Kesimpulan:
Belajar tidak hanya untuk kehidupan
ketika hidup saja, tetapi juga untuk kehidupan sesudah mati.
6.
Dalam Pendidikan terdapat Pahala dan Dosa
a. Dalil
Al-Quran

“Dan janaganlah
kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya.Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati. Semuanya itu akan
diminta pertanggung jawabannya. (Q.S.Al-Isra’.36)
b.Dalil
Hadits
عن ابى هريرة رضي الله عنه ان رسول
الله صلى الله عليه وسلم قال: من دعاء الى هدى كان له مثل اجور منتبعه لا ينقص ذلك
من اجورهم شياء (رواه مسلم)
“Dari Abi
Hurairah RA sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: siapa yang memberi petunjuk
ke jalan yang baik (dengan ilmunya) maka ia akan mendapat pahala seperti yang di dapatkan oleh orang yang mengikutinya tanpa
kurang sedikit pun”.[5]
c. Pendapat Ulama’
Metode ganjaran dan hukuman. Al-Ghazali berpendapat bahwa
jika anak melakukan perbuatan yang baik dan berakhlak terpuji, hendaknya ia
dimuliakan dan dipuji. Jika mungkin, ia diberi hadiah yang baik, dipuji di
hadapan orang-orang penting dan berkedudukan, sebagai motivasi baginya. Akan
tetapi sekira ia melakukan sesuatu perbuatan tercela, maka dalam pengungkapan
perbuatan tersebut tidak boleh secara terang-teranga.
d. kesimpulan :
Segala
sesuatu yang dilakukan oleh manusia pasti mendapat balasan dari Allah. Begitu
juga dalam proses belajar mengajar, segala sesuatunya akan dibalas baik berupa
pahala maupun dosa.
7.
Akal
dan Ilmu Manusia Terbatas, yang Tidak Terbatas adalah Ilmu Tuhan
a.
Dalil
Al-Quran

“dan mereka
bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku,
dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainakn sedikit.” (Q.S. Al-Isra’:85)
b.
Dalil
Hadits
لو كان البحر مدادا
لكمات ربى لنفد البحر قبل ان تنفد كلمات ربء ولو جئنا بمثله مددا.
c.
Pendapat Ulama’: Menurut al-Imam
asy-Syafii, “Sebagaimana mata memiliki keterbatasan yang ia pasti berhenti
padanya, maka akal juga memiliki keterbatasan yang ia harus berhenti padanya.
d.Kesimpulan
Akal dan ilmu manusia bisa
berkembang tetapi tetap ada batasnya.Sedangkan ilmunya Allah tiada terbatas dan
merupakan kebenaran yang hakik.
8.
Akal
dan Ilmu Terakait oleh Norma dan Nila.
a.
Dalil
Al-Quran
لَّا خَيۡرَ فِى ڪَثِيرٍ۬ مِّن نَّجۡوَٮٰهُمۡ إِلَّا مَنۡ
أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوۡ مَعۡرُوفٍ أَوۡ إِصۡلَـٰحِۭ بَيۡنَٱلنَّاسِۚ وَمَن
يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوۡفَ نُؤۡتِيهِ أَجۡرًا
عَظِيمً۬ا (١١٤)
Tidak ada
kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali (bisik-bisikan) orang
yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mendamaikan di antara
manusia. Dan sesiapa yang berbuat demikian dengan maksud mencari keredaan
Allah, tentulah Kami akan memberi kepadanya pahala yang amat besar.
(An-Nisa’:114)
b. Dalil Hadits
رُوْا فِيْ
اللهِ عَزَّ وَجَلَّتَفَكَّرُوْا فِيْ أَلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَك
Berpikirlah pada makhluk-makhluk
Allah dan jangan berpikir pada Dzat Allah.” (HR. Ath-Thabrani, Al-Lalikai dan
Al-Baihaqi dari Ibnu ‘Umar, lihat Ash-Shahihah no. 1788 dan Asy-Syaikh
Al-Albani menghasankannya)
c. Penapat Ulama’ : Al-Imam Az-Zuhri
rahimahullah mengatakan: “Risalah datang dari Allah, kewajiban Rasul
menyampaikan dan kewajiban kita
menerima.” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 201)
d. Kesimpulan: Intinya bahwa akal tidak mampu menjangkau
perkara-perkara ghaib di balik alam nyata yang kita saksikan ini.
9.
Terdapat
Hak-hak Tuhan dan Manusia lainnya terhadap Ilmu yang dimiliki oleh seseorang
a.
Dalil
Al-Quran

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa
yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (at-tahrim:6)
b.
Dalil
Hadits
مَنْ اَرَادَ الدَّ نْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ
اَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ اَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ ِبِالْعِلْم.
Barangsiapa “menghendaki hidup
(kebaikan) di dunia maka kepadanya dengan ilmu dan barangsiapa menghendaki
kehidupan (baik) di akherat maka dengan ilmu dan barangsiap menghendaki
keduanya maka juga dengan ilmu” (HR. Bukhari dan Muslim).
c.
Pendapat
Ulama’
Menurut Imam Ibnul
Qoyyim, “Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha
Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan
niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.
d. Kesimpulan:
Dalam ilmu yang dimiliki seseorang, terdapat hak-hak Tuhan dan hak manusia
lainnya.
10
Tujuan Pendidikan adalah Terbentuknya Insan Kamil
a.
Dalil
Al-Quran

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami,
berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami
dari siksa neraka.” (al-baqoroh:201)
b.
Dalil
Hadits
قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ
تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّوَجَلَّ لاَ
يَتَعَلَّمُهُ اِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عرضاً مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدِعَرْفَ
الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَعْنِي : رِيْحَهَا، ( رَوَاهُ أَبُوْ
دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ ).
Artinya
: Dari
Abu Hurairah ra. Ia berkata Rasulullah SAW bersabda :“ Barang siapa yang
mempelajari ilmu pengetahuan yang semistinya bertujuan untuk
mencari ridho Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian ia mempelajarinya dengan tujuan
hanya untuk mendapatkan kedudukan / kekayaan duniawi, maka ia tidak akan
mendapatkan baunya syurga kelak pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud) Sanad
Hadist ini Shohih.[6]
c.
Pendapat Ulama’
Menurut al-Ghazali Tujuan pendidikan adalah membentuk
setiap individu peserta didik untuk menjadi insan kamil dan berakhlak
mulia agar setiap individu tersebut mampu mengenal kapasitas dirinya sebagai
makhluk, sehingga ia dapat mendekatkan diri kepada Allah.[7]
d. Kesimpulan
manusia yang faham dan bisa mengaplikasikan hablum minalllah
dan hablum minannas. Sehingga mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di
akhirat.
11
Evaluasi
oleh Diri Sendiri dan Tuhan
a.
Dalil
Al-Quran

“Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar."(al-baqoroh:31)
b.
Dalil
Hadits
حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ
الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ كَمَا تَنَاتَجُ الْإِبِلُ مِنْ
بَهِيمَةٍ جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّ مِنْ جَدْعَاءَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ
أَفَرَأَيْتَ مَنْ يَمُوتُ وَهُوَ صَغِيرٌ قَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا
عَامِلِينَ (رواه أبو داود)
Artinya :
Menceritakan kepada kami Al-Qa’nabi
dari Malik dari Abi Zinad dari Al–A’raj dari Abu Hurairah berkata Rasulullah
saw bersabda : “Setiap bayi itu dilahirkan atas fitroh maka kedua orang
tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasroni sebagaimana unta yang melahirkan
dari unta yang sempurna, apakah kamu melihat dari yang cacat?”. Para Sahabat
bertanya: “Wahai Rasulullah bagaimana pendapat tuan mengenai orang yang mati
masih kecil?” Nabi menjawab: “Allah lah yang lebih tahu tentang apa yang ia
kerjakan”.[8]
c. Pendapat Ulama’
Kata
Ghazali, “Anak-anak adalah amanah di tangan ibu-bapanya. Jiwanya yang suci
adalah seumpama mutiara yang amat bernilai belum berukir dan berbentuk. Mutiara
itu dapat menerima segala ukiran dan bentuk, dan dapat pula dibawa ke arah yang
disukai.”[9]
d.
Kesimpulan
: Rangkaian akhir dari komponen suatu sistem pendidikan yang penting adalah
penilaian (evaluasi).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar