Minggu, 27 Desember 2015

fisafat pendidikan Islam berbagai pendapat

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
1.      Bersifat Theosentris (berkisar sekitar Tuhan).
a.       Dalil Al-Quran
31:13
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata anaknya, di waktu ia member pelajaran           kepadanya:“Hai  anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S.Lukman:13)
b.      Dalil Hadits
عن جابر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ان الله تعالى لا يقبل من العمل الا ما كان خا لصا وابتض به رضاه (رواه نسائ)
Artinya: “Dari Jabir RA ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya Allah SWT tidak akan menerima amal seseorang kecuali dengan niat yang tulus dan semata-mata mencari keridhoan-Nya”.[1]
c.       Pendapat Ulama
Muhammad ibn Muhammad yang dikenal dengan nama Abu Manshur al-Maturidi adalah salah seorang salaf terkemuka di kalangan Ahlussunnah, “Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Tampat adalah makhluk memiliki permulaan dan bisa diterima oleh akal jika ia memiliki penghabisan. Namun Allah ada tanpa permulaan dan tanpa penghabisan, Dia ada sebelum ada tempat, dan Dia sekarang setelah menciptakan tempat Dia sebagaimana sifat-Nya yang Azali;ada tanpa tempat. Dia maha suci (artinya mustahil) dari adanya perubahan, habis, atau berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lain” (Kitâb at-Tauhîd,)
d.       kesimpulan
        kita belajar atau mengajar harusi Lillahi Ta’ala dengan niat yang ikhlas.Thalabul ilmi Lil’ibadah yang mana implikasinya adalah surga dan neraka.Dalam filsafat pendidikan Islam ini dipercayai adanya barokah.

2.      Berdasarkan wahyu (Al-Quran, Hadits dan pemikiran ulama yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits)
a.       Dalil Al-Quran
2:2
“Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (Q.S.Al-Baqarah:2)
b.      Dalil Hadits
تَرَكْتُ ِيْكُمْ اَمْرَيْنِ مَا اِنْ تَمْسَكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوْا اَبَدًا كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ (رَوَاهُ َاكِمْ)
Artinya:“Telah aku tinggalkan kepada kalian semua dua perkara yang jika kalian berpegang teguh padanya maka tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.” [2]
c.       Pendapat Ulama
Para ulama ushul fiqih mazhab Syi'ah Itsna Asyariyah (dua belas imam) memiliki konsep dan pandangan dalam bentuk sebagai berikut: Tuhan adalah pencipta akal dan "pemimpin" masyarakat berakal serta Tuhan pulalah yang menganugrahkan wahyu dan agama untuk manusia, maka tak mungkin wahyu dan agama tak sesuai dengan akal, dan jika tak ada kesesuaian maka akan terjadi inner kontradiksi dalam ilmu Tuhan..
d.      Kesimpulan:
Wahyu adalah petunjuk dari Allah yang diturunkan hanya kepada para Nabi dan Rosul. Dalam hal ini Filsafat pendidikan Islam bersumber dari wahyu yang berupa Al-Qur’an, Hadits, dan Pemikiran Ulama yang Didasarkan pada al Qur’an dan Hadits.


3.      Meyakiniadanya yang Ghoib                                      :

a.       Dalil Al-Quran
27:38
27:39
27:40
“Brakata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.
Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepada sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya."
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia  bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".(Q.S. An-Naml: 38 – 40)
b.      Dalil Hadist
Artinya:“Telah aku tinggalkan kepada kalian semua dua perkara yang jika kalian berpegang teguh padanya maka tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.” [3]
c.       Pendapat Ulama
Ghaib adalah segala sesuatu yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh manusia, seperti surga, neraka dan apa yang ada di dalamnya, alam malaikat, hari akhir, alam langit dan yang lainnya yang tidak bisa diketahui manusia kecuali bila ada pemberitaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. (Lihat Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 1/53). Dalil lainnya, “Bacalah al quran dan janganlah menjauh dari al qur’an, jangan ghuluw atas al qur’an, dan janganlah makan dengan qur’an, dan jangan memperbanyak harta dengan al qur’an”.



d.      Kesimpulan
 Bukan hanya sekedar mengajarkan yang ghoib, tetapi juga bagaimana cara meyakininya, begitu juga kontekstualisasi materi yang tidak ghoib dengan nilai-nilai ghaibiyah-Nya (nilai-nilai ke-Esa-an Allah).
4.      Belajar mengajar adalah sama dengan ibadah, dan selalu dikaitkan dengan pengabdian kepada Allah
a.       Dalil Al-Quran
29:20
Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Q.S. Ankabut: 20)

b.      Dalil Hadits
عن ابى در قال عليه الصلاة والسلام : يا ابا در للأن تخدو فتعلم بابا من كتب الله تعا لى خيرا لك من ان تصلى مانة ركعة (رواه ابن ماجه)
Artinya: “Abu Dar berkata: Rasulullah SAW bersabda: Ya Abu Dar seandainya kau pergi pagi lalu kemudian mempelajari ilmu satu bab dari kitab Allah SWT maka itu lebih baik dibanding kau melaksanakan shalat seratus rakaat”.[4]
c.       Pendapat Ulama
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Allah menyebutkan bahwa kepemimpinan dalam agama itu akan didapatkan dengan sebab kesabaran dan keyakinan, sebagaimana pada surat as-Sajdah ayat 24.Hal ini karena agama itu semuanya adalah ilmu tentang kebenaran dan mengamalkannya.Oleh karena itu, orang yang mengamalkan (ilmunya) harus bersabar.Bahkan, dalam hal mencari ilmu pun, seseorang sangat membutuhkan kesabaran. (at-Tuhfatul ‘Iraqiyah, hlm. 254)

d.      Kesimpulan:
Belajar haruslah jisman, ruhan dan do’a. Dengan kata lain dia adalah orang yang benar-benarkhidmad dalamBeribadahKepadaAllah.


5.      Meyakini adanya kehidupan sebelum dan sesudah mati
a.       Dalil Al-Quran
2:3
2:4
2:5
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghoib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian riski yang kami anugrahkan kepada mereka”. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah ditunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S. Al-baqarah 3-5)
b.      Dalil Hadits

وأنكروا شفاعة رسول الله صلى الله عليه وسلم للمذنبين ودفعوا الروايات في ذلك عن السلف المتقدمين وجحدوا عذاب القبر وأن الكفار في قبورهم يعذبون وقد أجمع على ذلك الصحابة والتابعون رضي الله عنهم أجمعين
c.         PendapatUlama’
Mohammad Athiyah abrosyi berpendapat bahwa tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yaitu persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi keagamaan saja dan tidak hanya dari segi keduniaan saja, tetapi dia menaruh perhatian kepada keduanya sekaligus.
d.        Kesimpulan:
Belajar tidak hanya untuk kehidupan ketika hidup saja, tetapi juga untuk kehidupan sesudah mati.

6.      Dalam Pendidikan terdapat Pahala dan Dosa
a. Dalil Al-Quran
17:36
“Dan janaganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati. Semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya. (Q.S.Al-Isra’.36)
b.Dalil Hadits
عن ابى هريرة رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من دعاء الى هدى كان له مثل اجور منتبعه لا ينقص ذلك من اجورهم شياء (رواه مسلم)
“Dari Abi Hurairah RA sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: siapa yang memberi petunjuk ke jalan yang baik (dengan ilmunya) maka ia akan mendapat pahala seperti yang di dapatkan oleh orang yang mengikutinya tanpa kurang sedikit pun”.[5]
c. Pendapat Ulama’
Metode ganjaran dan hukuman. Al-Ghazali berpendapat bahwa jika anak melakukan perbuatan yang baik dan berakhlak terpuji, hendaknya ia dimuliakan dan dipuji. Jika mungkin, ia diberi hadiah yang baik, dipuji di hadapan orang-orang penting dan berkedudukan, sebagai motivasi baginya. Akan tetapi sekira ia melakukan sesuatu perbuatan tercela, maka dalam pengungkapan perbuatan tersebut tidak boleh secara terang-teranga.

d. kesimpulan :
Segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia pasti mendapat balasan dari Allah. Begitu juga dalam proses belajar mengajar, segala sesuatunya akan dibalas baik berupa pahala maupun dosa.


7.      Akal dan Ilmu Manusia Terbatas, yang Tidak Terbatas adalah Ilmu Tuhan
a.       Dalil Al-Quran
17:85
“dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainakn sedikit.” (Q.S. Al-Isra’:85)
b.      Dalil Hadits
لو كان البحر مدادا لكمات ربى لنفد البحر قبل ان تنفد كلمات ربء ولو جئنا بمثله مددا.
                                                                                                         
c.       Pendapat Ulama’: Menurut al-Imam asy-Syafii, “Sebagaimana mata memiliki keterbatasan yang ia pasti berhenti padanya, maka akal juga memiliki keterbatasan yang ia harus berhenti padanya.
d.Kesimpulan
Akal dan ilmu manusia bisa berkembang tetapi tetap ada batasnya.Sedangkan ilmunya Allah tiada terbatas dan merupakan kebenaran yang hakik.





8.      Akal dan Ilmu Terakait oleh Norma dan Nila.
a.       Dalil Al-Quran

لَّا خَيۡرَ فِى ڪَثِيرٍ۬ مِّن نَّجۡوَٮٰهُمۡ إِلَّا مَنۡ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوۡ مَعۡرُوفٍ أَوۡ إِصۡلَـٰحِۭ بَيۡنَٱلنَّاسِ‌ۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوۡفَ نُؤۡتِيهِ أَجۡرًا عَظِيمً۬ا (١١٤)
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali (bisik-bisikan) orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mendamaikan di antara manusia. Dan sesiapa yang berbuat demikian dengan maksud mencari keredaan Allah, tentulah Kami akan memberi kepadanya pahala yang amat besar. (An-Nisa’:114)
b. Dalil Hadits
رُوْا فِيْ اللهِ عَزَّ وَجَلَّتَفَكَّرُوْا فِيْ أَلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَك
Berpikirlah pada makhluk-makhluk Allah dan jangan berpikir pada Dzat Allah.” (HR. Ath-Thabrani, Al-Lalikai dan Al-Baihaqi dari Ibnu ‘Umar, lihat Ash-Shahihah no. 1788 dan Asy-Syaikh Al-Albani menghasankannya)
c. Penapat Ulama’ : Al-Imam Az-Zuhri rahimahullah mengatakan: “Risalah datang dari Allah, kewajiban Rasul menyampaikan    dan kewajiban kita menerima.” (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 201)       
d. Kesimpulan: Intinya bahwa akal tidak mampu menjangkau perkara-perkara ghaib di balik alam nyata yang kita saksikan ini.
9.      Terdapat Hak-hak Tuhan dan Manusia lainnya terhadap Ilmu yang dimiliki oleh seseorang
a.       Dalil Al-Quran
66:6
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-tahrim:6)
b.      Dalil Hadits
مَنْ اَرَادَ الدَّ نْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ اَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَ مَنْ اَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ ِبِالْعِلْم.
Barangsiapa “menghendaki hidup (kebaikan) di dunia maka kepadanya dengan ilmu dan barangsiapa menghendaki kehidupan (baik) di akherat maka dengan ilmu dan barangsiap menghendaki keduanya maka juga dengan ilmu” (HR. Bukhari dan Muslim).
c.       Pendapat  Ulama’
Menurut Imam Ibnul Qoyyim, “Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.


d.      Kesimpulan:
Dalam ilmu yang dimiliki seseorang, terdapat hak-hak Tuhan dan hak manusia lainnya.

10   Tujuan Pendidikan adalah Terbentuknya Insan Kamil
a.       Dalil Al-Quran
2:201
“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (al-baqoroh:201)
b.      Dalil Hadits
قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّوَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ اِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عرضاً مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدِعَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَعْنِي : رِيْحَهَا، ( رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ ).
Artinya : Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata Rasulullah SAW bersabda :“ Barang siapa yang mempelajari ilmu pengetahuan yang semistinya bertujuan untuk mencari ridho Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian ia mempelajarinya dengan tujuan hanya untuk mendapatkan kedudukan / kekayaan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan baunya syurga kelak pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud) Sanad Hadist ini Shohih.[6]
c.       Pendapat Ulama’
Menurut al-Ghazali Tujuan pendidikan adalah membentuk setiap individu peserta didik untuk menjadi insan kamil dan berakhlak mulia agar setiap individu tersebut mampu mengenal kapasitas dirinya sebagai makhluk, sehingga ia dapat mendekatkan diri kepada Allah.[7]

d. Kesimpulan
manusia yang faham dan bisa mengaplikasikan hablum minalllah dan hablum minannas. Sehingga mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

11    Evaluasi oleh Diri Sendiri dan Tuhan
a.       Dalil Al-Quran
2:31
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar."(al-baqoroh:31)
b.      Dalil Hadits
حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ كَمَا تَنَاتَجُ الْإِبِلُ مِنْ بَهِيمَةٍ جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّ مِنْ جَدْعَاءَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ مَنْ يَمُوتُ وَهُوَ صَغِيرٌ قَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ (رواه أبو داود)


Artinya :
Menceritakan kepada kami Al-Qa’nabi dari Malik dari Abi Zinad dari Al–A’raj dari Abu Hurairah berkata Rasulullah saw bersabda : “Setiap bayi itu dilahirkan atas fitroh maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasroni sebagaimana unta yang melahirkan dari unta yang sempurna, apakah kamu melihat dari yang cacat?”. Para Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah bagaimana pendapat tuan mengenai orang yang mati masih kecil?” Nabi menjawab: “Allah lah yang lebih tahu tentang apa yang ia kerjakan”.[8] 
c. Pendapat Ulama’
Kata Ghazali, “Anak-anak adalah amanah di tangan ibu-bapanya. Jiwanya yang suci adalah seumpama mutiara yang amat bernilai belum berukir dan berbentuk. Mutiara itu dapat menerima segala ukiran dan bentuk, dan dapat pula dibawa ke arah yang disukai.”[9]

d.   Kesimpulan : Rangkaian akhir dari komponen suatu sistem pendidikan yang penting adalah penilaian (evaluasi).



[1]H.R. Nasa’i
[2]HR. Hakim
[3]HR. Hakim
[4]H.R. Ibnu Majah
[5]H.R. Muslim
[6]Imam Nawawi, Riyadusholihin, Hal 438
[7]Hermawan, Heris, Filsafat pendidikan Islam, (Jakarta: Kemenag RI, 2012), h. 350
[8]H.R. Abu Dawud
[9]Nashruddin Thaha, Tokoh-Tokoh Pendidikan Islam Di Zaman Jaya, (Jakarta: Mutiara, 1979), h.35

Tidak ada komentar:

Posting Komentar